Banjir Bandang di Pulau Siau Sitaro Tewaskan 16 Orang, Ratusan Warga Mengungsi

Daftar Isi
Banjir Bandang di Pulau Siau Sitaro Tewaskan 16 Orang, Ratusan Warga Mengungsi


beritanetwork-team.web.id – Sulawesi Utara.

Banjir bandang akibat hujan berintensitas sangat tinggi menerjang Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, pada Senin dini hari, 5 Januari 2026, menewaskan sedikitnya 16 orang, melukai puluhan warga, serta memaksa ratusan orang mengungsi dari rumah mereka. Bencana tersebut terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah itu selama beberapa jam hingga menyebabkan sungai meluap dan aliran air turun dari wilayah perbukitan dengan kekuatan besar.


Air bercampur lumpur, batu, kayu, dan material lain menghantam pemukiman warga, merusak rumah, fasilitas umum, dan infrastruktur penting. Sejumlah ruas jalan utama tertutup material banjir sehingga akses transportasi dan distribusi bantuan sempat terhambat. Warga yang berada di sekitar bantaran sungai dan dataran rendah menjadi kelompok paling terdampak oleh terjangan air yang datang secara tiba-tiba pada waktu sebagian besar warga masih berada di dalam rumah.


Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa hingga Selasa, 6 Januari 2026, jumlah korban meninggal tercatat 16 orang, sementara beberapa warga masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian oleh tim SAR gabungan. Proses identifikasi korban terus dilakukan di fasilitas kesehatan setempat seiring pendataan korban yang masih berlangsung di lapangan.


Selain korban jiwa, sedikitnya 22 warga mengalami luka-luka, baik luka ringan maupun berat, dan sebagian harus dirujuk ke rumah sakit di Manado untuk mendapat perawatan lanjutan. Kerusakan fisik akibat banjir bandang juga cukup parah, dengan lebih dari 140 rumah warga rusak dari ringan hingga berat, serta sejumlah bangunan umum dan fasilitas pelayanan publik tidak dapat digunakan sementara waktu.


Dampak bencana ini memaksa lebih dari 680 jiwa mengungsi ke lokasi-lokasi yang lebih aman seperti sekolah, gereja, dan gedung pertemuan masyarakat. Pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus melakukan pendataan pengungsi sekaligus menyalurkan bantuan logistik berupa makanan siap saji, air bersih, selimut, obat-obatan, dan kebutuhan darurat lainnya.


Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari guna mempercepat proses penanganan, evakuasi korban, distribusi bantuan, serta pemulihan infrastruktur yang rusak. Keputusan tersebut diambil setelah melihat luasnya dampak bencana dan kebutuhan mendesak warga terdampak di berbagai wilayah Pulau Siau.


Untuk mendukung operasi di lapangan, Polda Sulawesi Utara mengerahkan 204 personel bersama unsur TNI, Basarnas, BPBD, dan relawan setempat. Tim gabungan difokuskan pada pencarian korban yang masih hilang, pembukaan akses jalan yang tertutup material banjir, serta pemulihan layanan dasar bagi masyarakat yang terdampak.


Hingga Selasa sore, proses evakuasi dan pencarian korban masih terus berlangsung, sementara pemerintah dan aparat mengimbau masyarakat untuk tetap waspada mengingat kondisi cuaca di wilayah Sulawesi Utara masih berpotensi hujan lebat dalam beberapa hari ke depan. Risiko banjir susulan dan longsor masih tinggi, terutama di daerah perbukitan dan sepanjang aliran sungai.


Posting Komentar