Erupsi Gunung Semeru Kembali Terjadi, PVMBG Pastikan Status Masih Siaga
beritanetwork-team.web.id – Jawa Timur.
Gunung Semeru kembali mengalami erupsi pada Selasa malam, 10 Februari 2026. Letusan disertai kolom abu vulkanik yang membumbung ke udara dari kawah Jonggring Saloko. Peristiwa ini menandai berlanjutnya aktivitas vulkanik tinggi yang telah terjadi berulang kali dalam beberapa hari terakhir di gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut.
Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru di Kabupaten Lumajang, erupsi terjadi pada malam hari dan teramati jelas secara visual. Kolom abu berwarna kelabu hingga cokelat dengan intensitas sedang terpantau keluar secara vertikal dari puncak gunung. Aktivitas tersebut terekam pula oleh peralatan seismograf yang menunjukkan adanya gempa letusan.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Hendra Gunawan, menyatakan bahwa erupsi yang terjadi merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang masih tinggi.
“Gunung Semeru saat ini masih berada pada Status Level III atau Siaga. Aktivitas erupsi masih berpotensi terjadi karena suplai magma dari kedalaman belum berhenti,” ujar Hendra dalam keterangan resminya, Selasa (10/2/2026).
Menurut PVMBG, rangkaian kejadian bermula dari meningkatnya aktivitas kegempaan vulkanik dalam beberapa hari terakhir. Sejak awal pekan, petugas mencatat adanya gempa letusan dan guguran yang terjadi secara berulang. Kondisi ini menunjukkan adanya akumulasi tekanan gas vulkanik di dalam tubuh gunung, yang kemudian dilepaskan melalui letusan abu.
Erupsi Semeru ini berpusat di kawah Jonggring Saloko, dengan wilayah berpotensi terdampak berada di sektor tenggara hingga selatan gunung. Area tersebut mencakup alur sungai yang berhulu di puncak Semeru, seperti Besuk Kobokan, yang dikenal sebagai jalur aliran awan panas guguran dan lahar saat aktivitas meningkat atau ketika hujan turun.
PVMBG merekomendasikan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius berbahaya yang telah ditetapkan.
“Masyarakat dilarang beraktivitas di sepanjang alur sungai yang berhulu di Gunung Semeru, terutama di Besuk Kobokan, karena berpotensi dilalui awan panas dan lahar,” kata Hendra Gunawan. Warga juga diimbau mewaspadai hujan abu dan menggunakan masker untuk mengurangi dampak terhadap kesehatan pernapasan.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang menyatakan terus melakukan koordinasi dengan aparat desa, relawan, dan instansi terkait. Pemantauan lapangan dan kesiapsiagaan personel ditingkatkan guna mengantisipasi kemungkinan peningkatan aktivitas susulan dari Gunung Semeru.
Hingga Selasa malam, belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan signifikan akibat erupsi tersebut. Namun, otoritas menegaskan bahwa kondisi Gunung Semeru masih fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu. Pemerintah meminta masyarakat tetap tenang, tidak terpancing informasi yang tidak resmi, serta mengikuti perkembangan terbaru hanya dari sumber yang berwenang.
Tim Redaksi
(rd/ks/jk)
